TarompétadalahsalahsatualatmusicyangdikenalsecaraluasdalambudayaSunda. Nama “tarompet” berasal darisuara atau bunyinya yang “péét… péét …péét” –yang di bidanglinguistik dan ilmu musicdisebutonomatopoik.Alatmusik mainananakserupadenganitu, yang dibuatdaribatangpadiataudaunkelapa muda, jugadisebutempét-empétan, yang bisa berarti dua macam: (1) “yang berbunyi péét..péét,” dan(2) “yang meniru [alat musik] empét.”
Nama “terompet” biasa dipakai dalam bahasa Indonesia, yang berasal dari Barat, (trumpet). Akan tetapi, jika trumpet Baratsumberbunyinyadari duabibirpeniupnya yang bergetar, sumber bunyi tarompétSunda adalah dari empét, yang berupa lembaran atau lempeng-lempeng tipis (reed, “lidah”) yangdibuat daridaunkelapa kering. Lempengan empétinilah yang bergetar,salingberaduketikaditiup—sama dengan obo (oboe)yang dalam organologi (ilmu alat musik) disebut double reed (berlidah ganda). Jadi, darisisinamanyatarompétinidekatdengan “terompet” tapidarisisialatnya dekatdenganobo.Lidah empét bukan hanya 2 (double), tapi ada yang 4 (quadrupel), ada yang 6 (hexaduple), bahkan ada yang 8 (“octadupel”).
Gamelan sekaten di Kraton Kasepuhan Cirebon dimainkan pada hari raya Islam, Idul Fitri dan Idul Adha. Sedangkan di krtaon-kraton lainnya di Jawa, seperti di Surakarta, Yogyakarta, dan juga di Kraton Kanoman Cirebon, gamelan sekaten itu dimainkan pada waktu upacara Maulid Nabi. Sekaten Kasepuhan ini dimainkan pada waktu sholat ied berakhir, bersamaan dengan bunyi bedug di Masjid Agung. Dimainkannya di siti inggil, bagian paling depan dari kompleks kraton, menghadap alun-alun, berjarak sekitar 100 meter dari mesjid Agung.
Gamelan sekaten Kasepuhan dimainkan sekitar 1 jam, dan hampir-hampir tidak ada penontonnya.
Kisah ini bermula di kerajaan Nawang Gantungan. Rajanya, Prabu Kelanjali, merasa tidak nyaman putrinya menikah dengan Wong Agung Jayengrana. Maka, cucu kandungnya, Raden Banjaran Sari dibuangnya ke laut. Dewi Kuraisin datang dari Azrak, menolong Raden Banjaran Sari dari jeratan maut, dan terus memeliharanya.
Setelah dewasa, Banjaran Sari melakukan pengembaraan. Ia bertemu dengan Raja Yabi’ul Awal dari Kerajaan Sindang Dayak, yang kemudian mengangkatnya sebagai putranya sendiri. Raja Yabi’ul Awal, yang tamak kekuasaan, ingin merebut Kerajaan Arab yang dipimpin oleh Wong Agung Jayengrana.
Gagal (Bhs. Cirebon), artinya mulai. Gagalan Panji artinya tanda dimulainya tari topeng Panji. Dalam pertunjukan topeng Cirebon, gagalan Panji adalah semacam pintu pembuka, sebagai ciri bagi dalang topeng untuk mulai menari dan bagi pertunjukannya itu sendiri. Lagunya bernama kratagan yang artinya mengejutkan. Dalam tari Topeng Panji, Gagalan Panji adalah suatu keharusan, durasinya (lama-sebentar) bukanlah pokok. Tanpa pembuka gagalan, tari tersebut tidaklah sempurna, ia adalah bagian yang cukup penting bahkan sebagai salah satu cirinya. Lagu dalam gagalan (kratagan)sebenarnya merupakan kependekan dari tetalu yang juga lagunya kratagan. Jika kratagan dalam tetaluan durasinya bisa sangat panjang, gagalan sebaliknya.
Sebagai cirinya, lagu itu dimulai dengan sebuah tabuh serempak pada nada sepulu atau galimer (nada gamelan bilah keempat atau kelima dari kanan). Ditalu keras secara bersamaan. Mula-mula pengeprak itu menengok ke arah belakang, ke kiri dan kanan seraya memperhatikan kesiapan para nayaga untuk gagalan. Ia kemudian mengajak mereka: “yu”, dan biasanya para nayaga menjawabnya “ya”.Pengeprak segera mengangkat alat tabuh yang digenggam tangannya, kemudian dengan cepat ia menariknya ke bawah dan menghentakkannya ke kecrek yang tergantung di samping kotak. Seketika itu pula terdengar bunyi: jréng! Membuat orang terkejut. (Toto Amsar)
Ensambel yang terdiri dari biola dan kacapi, tumbuh sebagai musik "warung kopi" atau musik "pasar." Sebagai suatu jenre musik disebut juga "musik komedi" yang di Sunda (daerah Bandung) biasa dinamakan musik jenaka Sunda. Gaya mainnya, selain terdengar lucu, juga demonstratif dari sisi teknis, seperti menirukan bunyi burung, mobil, klakson, dll. Sampel ini, dimainkan oleh pemain biola terkenal, Adang, yang menamakan grupnya Biola Maut, yang konotasinya "demonstratif" atau "spektakular." (Endo Suanda)
Lagu "saur" ini adalah salah satu lagu dari kumpulan lagu pada Jentreng Tarawangsa. Biasanya lagu ini adalah lagu pembuka sekaligus sebagai lagu pengiring tarian pertama pada pertunjukan jentreng tarawangsa. Ritual ini terdapat di Jawa Barat tepatnya Rancakalong - kab. sumedang.
Lima laki-laki bersaudara anak Pandu dalam cerita wayang (Mahabarata): Yusistira (Puntadewa, Semiaji),Bima (Werkudara, Jayasena), Arjuna (Janaka, Partasuanda), Nakula (Piten), dan Nakula (Tangsen). Perwujudannya di setiap gaya (gagrag) wayang memiliki perbedaan walau banyak yang mirip).